Ditulis oleh:小韭菜a

Sumber gambar: https://gnews.org/post/p2076656/

Saham China jatuh pada hari Kamis setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan operasi militer di Ukraina timur, Reuters melaporkan pada 24 Februari.

 Pada penutupan awal perdagangan, CSI300 (.CSI300) turun 1.3 persen menjadi 4,563.95, sedangkan Shanghai Composite Index (.SSEC) turun 0,9 persen menjadi 3,458.12.

 Indeks Hang Seng (.HSI) turun 3.1 persen menjadi 22,925.60, sedangkan Indeks Perusahaan China Komunis Hong Kong (.HSCE) turun 3.4 persen menjadi 8,033.08.

 Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan bahwa saham berjangka AS jatuh Rabu malam, memperpanjang penurunan terakhir Wall Street.  Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan “operasi militer khusus” di wilayah pro-Rusia Ukraina, sebuah langkah yang ditafsirkan sebagai eskalasi lebih lanjut dari ketegangan militer di Eropa Timur.

 Saham AS juga jatuh lebih jauh pada hari Rabu di tengah kekhawatiran perang di Ukraina, mendorong S&P 500 ke area koreksi.  Indeks acuan saham AS turun 79.26 poin, atau 1.8 persen, menjadi 4,225.50 poin.  Dow Jones berjangka kehilangan 701 poin, atau 2.1 persen, menjadi 32,385, S&P 500 berjangka turun 91 poin, atau 2.2 persen, menjadi 4,126, dan Nasdaq 100 berjangka merosot 368 poin, atau 2.7 persen, menjadi 13,145.

 Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut operasi khusus itu sebagai tanggapan atas ancaman dari Ukraina.  Putin mengatakan Rusia tidak bermaksud untuk menduduki Ukraina dan mengatakan tanggung jawab atas pertumpahan darah terletak pada “rezim” Ukraina.

 Putin juga memperingatkan negara-negara lain bahwa setiap upaya untuk campur tangan akan menyebabkan konsekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.  Bagaimanapun, perang Rusia di Ukraina telah meningkatkan ketidakpastian di pasar global.  Ini juga akan membawa gejolak yang tak terukur ke ekonomi keuangan dan mata pencaharian internasional!

Sumber informasi:https://gnews.org/post/p2076656/

Editor yang bertanggung jawab: Eric Kim